Trending.co.id, Kutai Timur – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) menargetkan selama tiga tahun angka Anak Tidak Sekolah (ATS) turun 50 persen. Hal tersebut diungkapkan Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, belum lama ini.
Mulyono memaparkan, dari data yang diterima dari Pusdatin Kemendikbudristek per Maret 2025, menunjukkan 13.411 anak di Kutim tercatat tidak sekolah. Jumlah tersebut juga terbesar di Kalimantan Timur (Kaltim).
Dia pun merinci dari 13.411, yakni 9.945 anak belum pernah bersekolah, 1.996 anak putus sekolah, dan 1.470 anak tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.
“Ini lah yang memaksa kami bergerak,” tegasnya.
Hal ini tidak relevan karena 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kutim telah dialokasikan untuk pendidikan dan banyak program unggulan telah berjalan, mulai dari seragam gratis, Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA), Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (BOPDA), beasiswa, hingga perbaikan infrastruktur sekolah.
Meski ia mengetahui, penyebabnya bersifat multidimensi, seperti kemiskinan, jarak antarwilayah, pekerja anak, hingga pernikahan dini.
Oleh karena itu, SITISEK dirancang secara komprehensif bersama Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Programnya mencakup pendataan by name by address (BNBA), pembentukan tim penanganan ATS, penyediaan kelas jauh dan sekolah terbuka, pendidikan nonformal, beasiswa transportasi, bantuan seragam, hingga pelibatan CSR tambang dan perkebunan.
“SITISEK menargetkan penurunan ATS minimal 50 persen dalam tiga tahun ini,” pungkasnya. (adv)











Discussion about this post