Trending.co.id, Samarinda – Sekitar 2.000 orang yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim (APMK) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di dua pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur, Selasa (21/4/2026). Aksi yang berlangsung dari pagi hingga malam hari ini menuntut evaluasi total kebijakan Pemprov Kaltim, penghentian praktik KKN dan politik dinasti, serta pengawasan ketat oleh DPRD.
Aksi yang dimulai sejak pukul 08.00 Wita di Kantor DPRD Kaltim dan berlanjut ke Kantor Gubernur Kaltim ini diikuti oleh puluhan elemen masyarakat, mahasiswa, buruh, organisasi adat, hingga komunitas disabilitas. Beberapa kelompok yang teridentifikasi antara lain BEM KM UNMUL, HMI, GMNI, Laskar Banjar Borneo, Serikat Buruh, hingga Forum Penyandang Disabilitas (FOPPADIS) Kaltim.
Tuntutan: Stop Dinasti Rudy Masud dan Anggaran Mewah
Dalam orasinya, massa menyoroti sejumlah kebijakan kontroversial, termasuk anggaran renovasi rumah jabatan gubernur yang disebut mencapai Rp 25 miliar dan pengadaan mobil dinas Rp 8 miliar. Program beasiswa “Gratispol” juga dikritik sebagai tidak merata dan tidak transparan.
“Kami menolak dinasti politik yang dibangun oleh Rudy Masud. Satu keluarga mengobrak-abrik daerah ini,” tegas Rossa Tri Rahmawati Bahri, orator dari BEM FISIP UNMUL di hadapan massa.
Perwakilan masyarakat adat Dayak Paser, Ahmad Ariadi, menyoroti proses pembebasan lahan untuk Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dinilai merugikan warga. Sementara perwakilan disabilitas mengeluhkan pencabutan BPJS dan tunjangan disabilitas.
Fakta Integritas Ditandatangani, Sempat Terjadi Ketegangan
Sekitar pukul 11.00 Wita, massa yang memadati Jalan Teuku Umar bergantian berorasi. Wakil Ketua I DPRD Kaltim, Ekti Imanuel (Fraksi Gerindra), akhirnya menemui massa pada pukul 11.42 dan menandatangani pakta integritas berisi tuntutan aksi hanya 22 menit kemudian.
Namun, situasi sempat memanas. Massa memaksa masuk ke gerbang DPRD Kaltim pukul 12.12 Wita. Seorang mahasiswa BEM FH UNMUL bernama Maulana pingsan dan ditangani tim medis. Setelah kondisi mereda, massa bergeser ke Masjid Islamic Center untuk istirahat.
Aksi Berlanjut ke Kantor Gubernur, Massa Minta Gubernur Turun
Aksi kembali bergulir pukul 14.00 Wita di depan Kantor Gubernur Kaltim, Jalan Gajah Mada. Sekitar 600 massa berkumpul kembali. Orator dari driver online hingga mahasiswa kembali melontarkan kritik pedas.
“Kami menuntut Gubernur turun langsung. Anda tidak layak lagi memimpin Kaltim. Marwah Kaltim justru dinodai oleh kebijakan yang mengabaikan rakyat kecil,” ujar Veronika, perwakilan driver Maxim.
Orator dari BEM KM UNMUL, Febri Jaka, bahkan mengibaratkan aksi ini sebagai “revolusi kecil” yang mengacu pada pelajaran Revolusi Prancis.
Pengamanan Super Ketat, Ribuan Personel Dikerahkan
Aparat keamanan mengerahkan kekuatan luar biasa. Total personel gabungan mencapai lebih dari 2.500 orang
Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro dan Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar sempat menyapa massa di awal aksi untuk menghimbau ketertiban.
Aksi berakhir sekitar pukul 20.20 Wita tanpa insiden besar setelah massa secara bertahap membubarkan diri. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Gubernur Kaltim atau pihak Pemprov terkait tuntutan demonstran.(nu)











Discussion about this post