Belum lama ini, masyarakat Bontang dihebohkan oleh beredarnya potongan siaran langsung seorang dokter kandungan yang menyampaikan keprihatinannya terhadap kasus kehamilan pada usia remaja. Dengan nada bercanda namun sarat makna, ia menyindir bahwa ternyata ada yang mengaku “tidak pernah disentuh laki-laki” tetapi datang dalam kondisi hamil. Terlepas dari bagaimana pengakuan para remaja tersebut, fenomena yang diungkapkan itu menyisakan pertanyaan besar: ada apa dengan generasi kita hari ini?
Yang lebih miris, sebagian orang tua bahkan tidak mengetahui kondisi anaknya hingga harus dibawa ke rumah sakit karena mengeluhkan sakit perut hebat. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi bukan sekadar kesalahan individu, tetapi juga lemahnya pengawasan keluarga, rapuhnya kontrol sosial, dan rusaknya standar pergaulan yang berkembang di masyarakat.
Pergaulan bebas semakin mudah terjadi di tengah derasnya arus media sosial. Anak-anak dan remaja dapat mengakses berbagai konten tanpa batas, sementara benteng keimanan dan ketakwaan yang seharusnya menjadi pelindung justru semakin lemah. Budaya pamer aurat, keinginan untuk selalu eksis, serta rasa takut tertinggal tren (FOMO) mendorong sebagian remaja mengabaikan batasan-batasan yang seharusnya dijaga.
Namun, menyalahkan remaja semata tentu bukan solusi. Mereka juga hidup dalam lingkungan yang setiap hari menormalisasi kebebasan tanpa batas atas nama gaya hidup, hiburan, dan kebebasan berekspresi. Karena itu, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan edukasi seks atau kampanye pergaulan sehat semata. Yang dibutuhkan adalah solusi yang menyentuh akar persoalan.
Islam memiliki solusi yang bersifat mendasar dan menyeluruh. Islam membangun ketakwaan sebagai benteng utama dalam diri setiap individu. Sejak kecil, anak dididik untuk memahami bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Keluarga berfungsi sebagai madrasah pertama yang menanamkan akidah, akhlak, dan rasa malu. Pendidikan tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk kepribadian Islam. Sementara masyarakat didorong untuk menjalankan budaya amar makruf nahi mungkar, saling menjaga dan mengingatkan dalam kebaikan.
Lebih dari itu, Islam tidak hanya mengandalkan kesalehan individu. Dalam sejarah peradaban Islam, negara juga berperan sebagai penjaga akhlak dan kehormatan masyarakat. Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, misalnya, pemimpin tidak hanya mengurus administrasi pemerintahan dan ekonomi rakyat, tetapi juga memastikan kehidupan masyarakat berjalan sesuai nilai-nilai Islam. Beliau dikenal sering berkeliling pada malam hari untuk mengetahui langsung kondisi rakyatnya dan memastikan tidak ada kemungkaran maupun kezaliman yang merugikan masyarakat.
Negara saat itu juga menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan, dan pembentukan akhlak. Selain itu, terdapat mekanisme hisbah, yaitu pengawasan kehidupan publik agar aktivitas yang merusak moral tidak berkembang di tengah masyarakat. Kemaksiatan tidak dipandang sebagai urusan pribadi yang boleh dipertontonkan atau dinormalisasi, melainkan dicegah agar tidak merusak kehidupan sosial secara luas.
Dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan juga diatur untuk menjaga kehormatan dan mencegah kerusakan sejak dini. Aturan tersebut bukan untuk membatasi kebebasan, melainkan untuk melindungi manusia dari dampak buruk yang muncul akibat hubungan yang tidak terjaga. Pada saat yang sama, negara, keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung ketaatan kepada Allah SWT.
Karena itu, jika kita menginginkan lahirnya generasi yang mampu menjaga kehormatan dirinya, maka yang harus dibangun bukan hanya kesadaran individu, tetapi juga suasana kehidupan yang dipenuhi nuansa keimanan dan ketakwaan. Sebab generasi yang baik tidak lahir dari lingkungan yang permisif terhadap kemaksiatan, melainkan dari keluarga, pendidikan, masyarakat, dan tata kelola kehidupan yang bersama-sama menjadikan aturan Allah sebagai pedoman.
Pertanyaannya, di tengah derasnya arus pergaulan bebas hari ini, masihkah kita berupaya melahirkan “Maryam-Maryam masa kini”? Ataukah kita justru membiarkan generasi kita tumbuh tanpa benteng yang mampu menjaga kehormatan mereka? Sebab menjaga generasi bukan hanya tugas orang tua atau guru semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat untuk menghadirkan kehidupan yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan.











Discussion about this post