Trending
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Trending
  • Berita Daerah
  • Advertorial
  • Nasional
  • Opini
Trending
  • Beranda
  • Trending
  • Berita Daerah
  • Advertorial
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Trending
No Result
View All Result
Home Opini

Gap Generasi: Keterputusan Nilai Kebaikan

Oleh : Nur Ilahiyah U, Pengajar di Madrasah Al-Qur'an Darul Izzah Bontang.

by admin
01/03/2026
in Opini, Trending
Gap Generasi: Keterputusan Nilai Kebaikan

ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

 

Istilah generation gap atau jurang generasi mungkin belum begitu akrab di telinga sebagian orang tua. Namun, dampaknya sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang tua, terutama yang berasal dari Generasi Boomer atau Generasi X, tidak menyadari adanya istilah ini. Sebaliknya, di kalangan anak-anak mereka yang lahir sebagai Generasi Z, istilah generation gap justru cukup populer dan sering dibicarakan.

Di tengah Generasi Z, narasi tentang jurang generasi ini bahkan menjadi cara mereka memahami hubungan dengan orang tua. Tak sedikit dari mereka yang merasa “tidak nyambung” dengan orang tuanya, lalu menyimpulkan bahwa ada jurang pemisah antara diri mereka sebagai Generasi Z dan orang tua yang berasal dari Generasi X atau Boomer.

Perasaan ini tidak muncul begitu saja. Perubahan zaman yang berjalan sangat cepat telah membentuk cara berpikir, karakter, dan pola interaksi yang berbeda-beda di tengah masyarakat. Perbedaan usia, pengalaman hidup, dan cara menyikapi persoalan sehari-hari kerap memunculkan jarak dan perbedaan pendapat, yang sering kali berujung pada konflik antara orang tua dan anak.

Dari sini muncul berbagai label negatif. Generasi muda sering dicap tidak sopan, pembangkang, dan ingin menang sendiri. Sebaliknya, generasi tua kerap dianggap kolot, tidak paham perkembangan zaman, terlalu mengekang, dan sulit diajak berdialog. Konflik ini kemudian dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tak terhindarkan.

Sayangnya, pembahasan tentang generation gap sering berhenti di sini. Masalah ini hanya dipahami sebatas perbedaan usia, selera, atau gaya hidup. Generasi muda dianggap terlalu bebas, sementara generasi tua dipersepsikan kaku dan menolak perubahan. Perbedaan-perbedaan ini lalu dianggap sebagai akar utama konflik antargenerasi.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, persoalannya tidak sesederhana itu. Generation gap hari ini lebih tepat dipahami sebagai keterputusan nilai-nilai kebaikan yang dulu menjadi pengikat antargenerasi. Nilai adab, keteladanan, saling menghormati, dan saling memahami tidak lagi diwariskan secara utuh.

Ketika nilai-nilai kebaikan ini melemah, perbedaan cara pandang pun mudah berubah menjadi pertentangan. Nasihat dipahami sebagai serangan, sementara kebebasan dimaknai sebagai pembenaran diri. Akibatnya, setiap generasi berjalan dengan “kompas” masing-masing, tanpa titik temu nilai yang seharusnya menyatukan.

Islam memandang perbedaan zaman sebagai sesuatu yang wajar, tetapi keterputusan nilai bukanlah hal yang normal. Wahyu diturunkan sebagai pedoman untuk semua generasi, bukan hanya untuk satu zaman tertentu. Selama nilai kebaikan yang bersumber dari wahyu tetap dijadikan rujukan bersama, perbedaan usia tidak akan melahirkan jurang, melainkan kesinambungan antargenerasi.

Al-Qur’an menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan sepanjang zaman. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21). Ayat ini menunjukkan bahwa nilai Islam selalu relevan, kapan pun dan di generasi mana pun. Karena itu, perbedaan usia dalam Islam tidak dimaknai sebagai kesenjangan, melainkan sebagai bagian dari keteraturan sosial yang saling melengkapi.

Prinsip ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam sabdanya: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa Islam tidak memihak satu generasi di atas generasi lain. Generasi muda dituntut menjaga adab dan hormat, sementara generasi tua bertanggung jawab membimbing dengan kebijaksanaan dan kasih sayang.

Al-Qur’an juga memberi contoh dialog ideal lintas generasi melalui nasihat Luqman kepada anaknya (QS. Luqman: 12–19). Nilai tauhid, adab sosial, dan kesabaran disampaikan dengan lembut, tanpa paksaan dan tanpa cacian. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pewarisan nilai tidak hanya bergantung pada apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.

Namun, dalam konteks modern, narasi generation gap tidak lahir secara alami begitu saja. Istilah ini pertama kali dipopulerkan pada 1960-an oleh John Poppy, editor majalah Look, dan kemudian dikembangkan oleh William Strauss dan Neil Howe melalui teori pembagian generasi. Teori ini membagi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok generasi yang masing-masing diberi karakter dan stereotip tertentu.

Sebagian pihak mengkritik teori ini karena menyederhanakan persoalan sosial dan ekonomi menjadi sekadar perbedaan generasi. Namun, narasi ini telanjur menjadi arus utama di tengah masyarakat, termasuk di negeri kita. Tanpa disadari, pembagian generasi dan stereotip ini sejalan dengan kepentingan kapitalisme, yaitu menciptakan segmen pasar yang sangat spesifik, bukan hanya untuk produk barang, tetapi juga informasi dan gaya hidup.

Akibatnya, generasi muda terus menjadi sasaran berbagai serangan budaya dan ideologi, mulai dari gaya hidup bebas, budaya instan, hingga arus informasi digital yang nyaris tanpa batas. Media sosial membentuk standar hidup semu, mengukur nilai diri dari popularitas, penampilan, dan validasi publik. Di saat yang sama, tontonan, konten, dan tren yang beredar sering kali jauh dari nilai adab dan akhlak. Sayangnya, semua ini berlangsung tanpa perlindungan serius dari negara, bahkan di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Alih-alih menjadi pelindung, negara-negara yang memiliki sudut pandang sekuler kapitalisme, justru ikut menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi kesehatan fisik, mental, dan moral generasi muda. Negara lebih berperan sebagai fasilitator pasar daripada penjaga nilai. Akibatnya, generasi muda dibiarkan tumbuh di tengah arus yang kuat, tetapi tanpa pegangan yang kokoh.

Kondisi ini semakin diperparah oleh penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang melahirkan kemiskinan struktural. Banyak generasi muda kesulitan memenuhi kebutuhan dasar secara layak. Harga pangan, sandang, dan papan terus melonjak karena produksi dan rantai pasok dikuasai oleh para pemodal besar. Di sisi lain, pendidikan, kesehatan, dan keamanan ikut dikapitalisasi. Pendidikan tidak lagi sepenuhnya diarahkan untuk membentuk kepribadian yang beriman dan berakhlak, melainkan lebih menekankan capaian materi, persaingan, dan kebutuhan pasar kerja.

Padahal, dalam Islam, negara memiliki peran sentral sebagai penjaga akidah, pelindung generasi, dan penjamin terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat. Tanpa peran negara yang berlandaskan wahyu, upaya menjaga generasi sering kali berhenti pada nasihat individual dan solusi parsial. Inilah sebabnya, problem generasi tidak cukup diselesaikan dengan menyalahkan anak muda atau orang tua semata, tetapi membutuhkan perubahan arah pengelolaan kehidupan secara menyeluruh.

Pada akhirnya, persoalan generation gap bukan sekadar cerita tentang anak muda yang dianggap “tidak sopan” atau orang tua yang dinilai “ketinggalan zaman”. Akar masalahnya jauh lebih dalam, yakni hilangnya nilai kebaikan yang bersumber dari wahyu sebagai titik temu antargenerasi. Ketika nilai Islam tidak lagi menjadi rujukan bersama, perbedaan usia mudah berubah menjadi jurang yang memisahkan, bukan jembatan yang menyambungkan.

Karena itu, membenahi relasi antargenerasi tidak cukup dengan memperbaiki komunikasi atau menyesuaikan gaya hidup semata. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengembalikan wahyu sebagai pedoman hidup, baik dalam keluarga, pendidikan, maupun kebijakan negara. Hanya dengan nilai Islam yang hidup dan dijaga secara sistemik, generasi demi generasi dapat tumbuh dalam kesinambungan kebaikan, bukan saling menyalahkan, melainkan saling menguatkan dalam membangun peradaban.

 

Share298Tweet186Share74

Related Posts

Jual Beli Karbon Biru ; Potensi Cuan di Padang Lamun Bontang?
Berita Daerah

Jual Beli Karbon Biru ; Potensi Cuan di Padang Lamun Bontang?

17/07/2026
KNPI Usulkan ‘Musbangda’ Masuk Raperda Kepemudaan, DPRD Bontang Beri Dukungan
advetorial

KNPI Usulkan ‘Musbangda’ Masuk Raperda Kepemudaan, DPRD Bontang Beri Dukungan

14/07/2026
Disdikbud Ungkap Kasus Anak Melahirkan di RSUD Bukan Warga Bontang, Komisi A DPRD Siapkan Tindak Lanjut
advetorial

Disdikbud Ungkap Kasus Anak Melahirkan di RSUD Bukan Warga Bontang, Komisi A DPRD Siapkan Tindak Lanjut

10/07/2026
Komisi A DPRD Bahas 59 Kasus Kehamilan Anak, Disdikbud Bontang Tekankan Peran Orang Tua
advetorial

Komisi A DPRD Bahas 59 Kasus Kehamilan Anak, Disdikbud Bontang Tekankan Peran Orang Tua

10/07/2026
59 Kasus Kehamilan Anak dalam Lima Bulan, Komisi A DPRD Bontang Gelar RDP Cari Solusi
advetorial

59 Kasus Kehamilan Anak dalam Lima Bulan, Komisi A DPRD Bontang Gelar RDP Cari Solusi

09/07/2026
 DPRD Bontang Soroti 59 Kasus Kehamilan Anak, Dorong Kolaborasi OPD dan Tokoh Agama
advetorial

 DPRD Bontang Soroti 59 Kasus Kehamilan Anak, Dorong Kolaborasi OPD dan Tokoh Agama

09/07/2026
Next Post
Idulfitri 2026: ASN Bontang Dapat THR dan Tunjangan, PPPK Paruh Waktu Tanpa Komponen Tambahan

Idulfitri 2026: ASN Bontang Dapat THR dan Tunjangan, PPPK Paruh Waktu Tanpa Komponen Tambahan

Discussion about this post

Trending Hari Ini

  • Mengenang Sejarah dan Silaturahmi: Haul Pangeran Syarif Hamid Assegaf

    Mengenang Sejarah dan Silaturahmi: Haul Pangeran Syarif Hamid Assegaf

    756 shares
    Share 302 Tweet 189
  • Putri Nur Azizah, Paskibraka Asal Bontang Lolos ke Nasional

    865 shares
    Share 346 Tweet 216
  • Pemkab Kukar Gelar Gotong Royong di Empat Zona Kota Tenggarong dan Tenggarong Seberang

    743 shares
    Share 297 Tweet 186
  • Tak Minta Syarat Khusus, Dispora Kaltim Terbuka Terhadap Seluruh Organisasi Kepemudaan

    743 shares
    Share 297 Tweet 186
  • Mudik Lebaran 2026? Ini Jadwal Kapal PELNI di Pelabuhan Bontang

    759 shares
    Share 304 Tweet 190

Berita Terkini

Jual Beli Karbon Biru ; Potensi Cuan di Padang Lamun Bontang?

Jual Beli Karbon Biru ; Potensi Cuan di Padang Lamun Bontang?

17/07/2026
KNPI Usulkan ‘Musbangda’ Masuk Raperda Kepemudaan, DPRD Bontang Beri Dukungan

KNPI Usulkan ‘Musbangda’ Masuk Raperda Kepemudaan, DPRD Bontang Beri Dukungan

14/07/2026
Disdikbud Ungkap Kasus Anak Melahirkan di RSUD Bukan Warga Bontang, Komisi A DPRD Siapkan Tindak Lanjut

Disdikbud Ungkap Kasus Anak Melahirkan di RSUD Bukan Warga Bontang, Komisi A DPRD Siapkan Tindak Lanjut

10/07/2026
Trending

© 2025 Trending - Developed by Vision Web Development.

  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Contact
  • Kode Etik Jurnalistik

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Trending
  • Berita Daerah
  • Advertorial
  • Nasional
  • Opini

© 2025 Trending - Developed by Vision Web Development.